Category Archives: Non Fiction

those post I get from various source…
such as my friends file, or the other site from internet, :)

Mioma Uteri

I. MIOMA UTERI
A. Pengertian
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya. (Prawirohardjo,1999).
Mioma uteri sering juga disebut Fibroid walaupun asalnya dari jaringan otot dapat bersifat tunggal atau ganda dan mencapai ukuran besar. (Buku Ginekologi FK Universitas Padjakaran Bandung: 154)

B. Macam-Macam Mioma Uteri
1. Mioma Submucosa
Tumbuhnya tepat dibawah endometrium, paling sering menyebabkan perdarahan yang banyak, sehingga memerlukan Hysterektomi walaupun ukurannya kecil. Adanya mioma submucosum dapat dirasakan sebagai suatu “Curet Bump” (benjolan waktu kuret). Kemungkinan terjadi degenerasi, juga lebih besar pada jenis ini. Sering mempunyai tangkai yang panjang sehingga menonjolmelalui servik atau vagina, disebut juga sebagai mioma submucosa bertangkai yang dapat menimbulkan “ Myomgeburt “ (dilahirkan melalui servik) sering mengalami nekrose atau ulcerasi.
2. Mioma Intramular
Terletak pada miometrium, kalau besar atau multiple dapat menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol.
3. Mioma Subserosum
Letaknya dibawah tunica serosa, kadang-kadang vena yang ada di permukaan pecah dan menyebabkan perdarahan intraabdominal. Kadang-kadang mioma subserosum timbul diantara dua ligamentum latum, merupakan mioma intraligamenter yang dapat menekan ureter dan A. Illiaca. Ada kalanya tumor ini mendapat vascularisasi yang lebih banyak dari omentum sehingga lambat laun terlepas dari uterus, disebut sebagai parasitic Myoma. Mioma subserosum yang bertangkai dapat mengalami torsi.

C. Etiologi Mioma Uteri
Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti moima uteri dan diduga merupakan penyakit multifaktorial.
1. Faktor terbentuknya tumor
a. Faktor internal
Terjadi kesalahan replikasi pada sel-sel yang mati diganti oleh sel yang baru. Salah satu faktor genetik dari orang tua yang menyebabkan kanker pada usia dini. Faktor mutasi gen secara internal tidak dapat dicegah, namun faktor eksternal dapat dicegah. Menurut WHO 10-15% kanker dapat dicegah dari faktor internal dan 85% dicegah dari faktor eksternal.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal yang dapat merusak gen adalah virus, polusi udara, makanan, radiasi, bahan kimia baik pada makanan maupun bahan kimia dari polusi. Makanan yang mengandung pengawet dan pewarna makanan serta cara memasak dapat mengubah makanan menjadi senyawa kimia yang berbahaya. Kuman yang hidup dalam makanan dapat menyebarkan racun aflatoksin pada kacang-kacangan menyebabkan kanker hati. Makin sering tubuh diserang virus, kemungkinan besar sel normal menjadi sel kanker. Proses detoksifikasi yang dilakukan oleh tubuh prosesnya menghasilkan senyawa yang lebih berbahaya bagi tubuh seperti zat karsinogenik yang menyebabkan kerusakan sel.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor disamping faktor predisposisi genetik adalah estrogen, progesteron, dan human growth hormone.
a. Estrogen
Mioma uteri dijumpai setelah menarche. Sering kali pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium. Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti endometriosis(50%), perubahan fibrostik payudara(14,8%), adenomyosis(16,5%), dan hiperplasia endometrium(9,3%). Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita yang menajalani sterilisasi. Enzim 17B hidroxydesidrogenase mengubah estradiol menjadi estron sehingga aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal.
b. Progesteron
Merupakan antagonis natural estrogen yang dapat menghambat pertumbuhan tumor dengan mengaktifkan enzim 17B hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
c. Human growth hormon
Menurun selama kehamilan tetapi mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa dengan HPL. Yang terlihat pada periode ini memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari aksi senergetik antara HPL dan estrogen.
Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :
1) Umur :
Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35 – 45 tahun.
2) Paritas :
Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanirta yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakan infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
3) Faktor ras dan genetik :
Pada wanita ras tertentu khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
4) Fungsi ovarium :
Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma daripada miometrium normal dan mungkin penting pada perkembangan mioma. Namun bukti-bukti masih kurang meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah menopause sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini.

D. Patofisiologi
Menurut Sastrawinata S. mioma uteri mulai tumbuh dari bibit yang kecil di dalam endometrrium yang semakin membesar sepanjang waktu. Oleh karena pertumbuhan tersebut miometrium terdesak menyusun semacam pseudekapsula atau simpai semu yang mengelilingi tumor. Di dalam uterus mungkin terdapat satu mioma namun pada kenyataannya memungkinkan lebih banyak. Jika terdapat satu mioma yang tumbuh intramural dalam korpus uteri maka korpus ini akan tampak bundar dan konstipasi padat. Bila terletak pada dinding depan uterus, mioma dapat menonjol ke depan sehingga menekan dan mendorong kandung kencing ke atas sehingga menimbulkan keluhan miksi.
Tetapi masalah akan timbul jika terjadi berkurangnya pemberian darah pada mioma uteri yang menyebabkan tumor membesar sehingga menyebabkan rasa nyeri dan mual. Selain itu jika terjadi perdarahan abnormal pada uterus yang berlebihan dapat menyebakan anemia dan kekurangan cairan yang memicu kelemahan fisik, kondisi tubuh melemah sehingga kebutuhan perawatan diri tidak terpenuhi.

E. Gejala Klinis
1. Tumor/Massa di perut bagian bawah.
2. Perdarahan yang banyak dan lama selama masa haid atau pun di luar masa haid.
3. Rasa nyeri karena tekanan tumor dan terputarnya tangkal tumor, serta adanya infeksi di dalam rahim.
4. Gejala dan penekanan pada kandung kencing akan menyebabkan poliuri, pada urethra menyebabkan retensio urine, dll.
5. Gejala sekunder :
a. Anemia.
b. Lemah.
c. Pusing-pusing.
d. Sesak napas.
e. Fibroid Heart, sejenis degenerasi Myocard yang dulu disangka berhubungan dengan adanya myoma uteri.
f. Erythrocytosis pada myoma yang besar.
g. Gangguan sulit hamil karena terjadi penekanan pada saluran indung telur.
h. Pada bagian bawah perut dekat rahim terasa kenyal.

Sering kali penderita merasa nyeri akibat miom mengalami degenerasi atau kontraksi uterus berlebihan pada mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim. Pasangan suami istri sering kali sulit untuk punya anak (infertilitas) disebabkan gangguan pada tuba, gangguan implantasi pada endometrium, penyumbatan, dan sebagainya.
Mioma Uteri dapat mengganggu kehamilan dengan dampak berupa kelainan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat kontraksi rahim, pendarahan yang banyak setelah melahirkan dan gangguan pelepasan plasenta, bahkan bisa menyebabkan keguguran.
Sebaliknya, kehamilan juga bisa berdampak memperparah Mioma Uteri. Saat hamil, mioma uteri cenderung membesar, dan sering juga terjadi perubahan dari tumor yang menyebabkan perdarahan dalam tumor sehingga menimbulkan nyeri. Selain itu, selama kehamilan tangkai tumor bisa terputar.
F. Diagnosis
Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan :
1. Anamnesis
a. Timbul benjolan pada perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama
b. Kadang disertai gangguan haid, buang ari kecil atau buang air besar
c. Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, atau pecah
2. Pemeriksaan fisik
a. Palpasi abdomen didapat tumor pada abdomen bagian bawah
b. Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor menyatu dengan rahim atau mengisi kavum douglasi
c. Konsistensi padat, kenyal, permukaan rata

G. Diagnosis Banding
1. Tumor solid ovarium
2. Uterus gravid
3. Kelainan bawaan rahim
4. Endometriosis
5. Adenomiosis
6. Perdarahan uterus disfungsional

H. Komplikasi
1. Pertumbuhan Leiomiosarkoma
Yaitu tumor yang tumbuh dari miometrium, dan merupakan 50 – 70 % dari semua sarkoma uteri. Ini timbul apabila suatu mioma uteri yang selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong-konyong menjadi besar, apalagi jika hal itu terjadi sesudah menopause.
2. Torsi (putaran tangkai)
Ada kalanya tungkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Bla proses ini terjadi secara tiba-tiba, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan nampak gambaran klinik dari abdomen akut.
3. Nekrosis dan Infeksi
Pada mioma submukosum yang menjadi polip, ujung tumor kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan di vagina. Dalam hal ini ada ada kemungkinan gangguan sirkulasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder. (Prawiroharjo, 1996)

I. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Darah Lengkap
Haemoglobin : turun Albumin : turun
Lekosit : turun/meningkat Eritrosit : turun
2. Vaginal Toucher
Didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya.
3. Sitologi
Menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.
4. Rontgen
Untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi.
5. ECG
Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan operasi.
6. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama lebih bermanfaat untuk mendeteksi kelainain pada rahim, termasuk mioma uteri. Uterus yang besar lebih baik diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri dapat menampilkan gambaran secara khas yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran uterus. Sehingga sangatlah tepat untuk digunnakan dalam monitoring (pemantauan) perkembangan mioma uteri.
7. Hiteroskopi
Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri submukosa, jika tumornya kecil serta bertangkai. Pemeriksaan ini dapat berfungsi sebagai alat untuk penegakkan diagnosis dan sekaligus untuk pengobatan karena dapat diangkat.

8. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan lokasi mioma tetapi jarang diperlukan karena keterbatasan ekonomi dan sumber daya. MRI dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat disimpulkan.

Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan, cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan.
Adapun cara penanganan pada mioma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal.
Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy ( TAH-BSO )
TAH – BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus,serviks, kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding, perut pada malignant neoplasmatic desease, leymyoma dan chronic endrometriosis.
Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa TAH-BSO adalah suatu tindakan pembedahan dengan melakukan insisi pada dinding perut untuk mengangkat uterus, serviks,kedua tuba falopii dan ovarium pada malignant neoplastic diseas, leymiomas dan chronic endometriosis.

J. Metode Penanganan
1. Bila tumor berukuran kecil dan tidak membesar, cukup dilakukan pemeriksaan rutin setiap 3-6 bulan sekali, pengecilan tumor sementara dengan obat-obatan GnRH analog, mioma memiliki lapisan kapsul yang tegas, dapat dipisahkan/dikupas dari massa tumornya. Jika terjadi komplikasi dan timbul perdarahan, perlu diberikan transfusi darah dan obat penghilang rasa nyeri. Tindakan operasi dilakukan jika tumor membesar dan bila timbul gejala penekanan dan nyeri dan perdarahan yang terus menerus.
2. Operasi pembedahan: dengan histerektomi (pengangkatan kandungan) jika tidak ada rencana hamil lagi, atau miomektomi (mengangkat miomnya saja) pada usia reproduksi/masih rencana hamil. Namun jika massa tumor terlalu besar atau luas, kadang tidak memungkinkan hanya dilakukan pengangkatan massa tumor, sehingga tetap dilakukan histerektomi.

K. Pengaruh Mioma terhadap Kehamilan dan Persalinan
1. Subfertil (agak mandul) sampai fertil (mandul) dan kadang- kadang hanya punya anak satu. Terutama pada mioma uteri sub mucosum.
2. Sering terjadi abortus. Akibat adanya distorsi rongga uterus.
3. Terjadi kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang besar dan letak sub serus.
4. Distosia tumor yang menghalangi jalan lahir, terutama pada mioma yang letaknya diservix.
5. Inersia uteri terutama pada kala I dan kala II.
6. Atonia uteri terutama paska persalinan ; perdarahan banyak, terutama pada mioma yang letaknya didalam dinding rahim.
7. Kelainan letak plasenta.
8. Plasenta sukar lepas (retensio plasenta), terutama pada mioma yang sub mukus dengan intra mural.
Penanganan berdasarkan pada kemungkinan adanya keganasan, kemungkinan torsi dan abdomen akut dan kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetrik, maka :
a. Tumor ovarium dalam kehamilan yang lebih besar dari telur angsa harus dikeluarkan.
b. Waktu yang tepat untuk operasi adalah kehamilan 16 – 20 minggu.
c. Operasi yang dilakukan pada umur kahamilan dibawah 20 minggu harus diberikan substitusi progesteron

L. Komplikasi Kehamilan
1. Perdarahan sampai terjadi anemia.
2. Torsi tangkai mioma dari :
a. Mioma uteri subserosa.

b. Mioma uteri submukosa.
3. Nekrosis dan infeksi, setelah torsi dapat terjadi nekrosis dan infeksi.
4. Pengaruh timbal balik mioma dan kehamilan.
(1) Pengaruh mioma terhadap kehamilan
1. Infertilitas.
2. Abortus.
3. Persalinan prematuritas dan kelainan letak.
4. Inersia uteri.
5. Gangguan jalan persalinan.
6. Perdarahan post partum.
7. Retensi plasenta.
(2) Pengaruh kehamilan terhadap mioma uteri
1. Mioma cepat membesar karena rangsangan estrogen.
2. Kemungkinan torsi
3. Mioma uteri bertangkai.

DAFTAR PUSTAKA
1. ___________. Buku Ginekologi FK Universitas Padjajaran Bandung. ELSTAR-OFFSSET. Bandung.
2. …………….2001. Diktat Kuliah Ilmu Keperawatan Maternitas TA : 2000/01 PSIK.FK. Unair, Surabaya
3. Bagian Obstetri & Ginekologi FK. Unpad. 1993. Ginekologi. Elstar. Bandung
4. Carpenito, Lynda Juall, 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta
5. Galle, Danielle. Charette, Jane.2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. EGC. Jakarta
6. Hartono, Poedjo. 2000. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. Mimbar Vol.5 No.2 Mei 2001
7. Manuaba, Ida Bagus Gede. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana. EGC. Jakarta.
8. Prawirohardjo, Sarwono. 1999. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
9. Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
10. Saifidin, Abdul Bari,dkk. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. Jakarta

Pentingnya Posyandu

  1. Pengertian Posyandu

Posyandu adalah pusat pelayanan kesehatan yang diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan dari petugas kesehatan.

Posyandu Balita :

  • Adalah suatu organisasi atau wadah ataupun sebuah forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat dari oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk mengembangkan sumber daya manusia sejak dini di tingkat Pedukuhan.
  • Adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.
  • Adalah pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas kesehatan (Pihak Puskesmas) dalam rangka pencapaian Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS).

 

  1. Tujuan Posyandu

1.      Menurunkan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran

2.      Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR

3.      Mempercepat penerimaan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).

4.      Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan hidup sehat.

5.      Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan penduduk dan geografis

6.      Peningkatan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat.

 

1.      Imunisasi

2.      Mengetahui perkembanga balita

3.      Meningkatkan pelayanan kesehatan

4.      Memeriksakan kehamilan

5.      KB

  1. Manfaat Posyandu

Posyandu yang sudah ada dimasyarakat saat ini sangat berperan dalam mendukung pencapaian pembangunan kesehatan ibu dan anak. Dengan program Posyandu Balita di masing-masing RW di kelurahan Bandungrejosari yang selama ini berjalan dengan baik dan rutin dilakukan satu kali dalam satu bulan dan pembinaan yang dilakukan oleh Puskesmas secara bergantian di masing-masing Posyandu yang sudah tersebar di masing-masing RW tersebut sangat membantu masyarakat utamanya kesehatan ibu dan anak..

Ada lima program prioritas yang dilakukan oleh Posyandu yaitu : KB, KIA, gizi, imunisasi, dan penanggulangan diare. Dengan program tersebut terbukti dapat menurunkan angka kematian bayi dan balita. Partisipasi masyarakat dalam mendukung terlaksananya Posyandu Balita ini sangat penting, tanpa keikutsertaan mereka ke Posyandu maka program ini tidak akan dapat berjalan dengan baik. Dengan keaktifan mereka untuk datang dan memanfaatkan pelayanan kesehatan di posyandu dapat mencegah dan mendeteksi sedini mungkin gangguan dan hambatan pertumbuhan pada balita.

Keaktifan ibu balita dalam kegiatan posyandu merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat diperlukan untuk pemantauan pertumbuhan anaknya. Sikap ibu balita untuk menyadari bahwa posyandu merupakan hal yang utama untuk menigkatkan derajat kesehatan ibu balita, hal ini dapat menimbulkan perilaku positif ibu balita tentang posyandu. Sikap ibu balita yang positif akan mempengaruhi perubahan perilaku yang positif. Dengan didasari pengetahuan yang baik dan sikap positif terhadap posyandu, maka Ibu akan senantiasa berupaya datang ke posyandu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang sangat berguna bagi anak-anak mereka, dan tentunya bagi ibu itu sendiri.

Banyak program dan fasilitas yang disediakan pemerintah akan menjadi sia-sia jika ibu dan balita tidak datang ke posyandu. Misalnya, pemberian imunisasi. 1 botol vaksin (DPT/HB, Campak) rata-rata untuk dipakai 10 sasaran (10 dosis), 1 vaksin BCG untuk > 60 dosis/sasaran. Jika sasaran yang diimunisasi sangat sedikit, misalnya yang diimunisasi BCG hanya 5 bayi, DPT/HB 3 bayi, maka indeks pemakaian vaksin juga sangat kecil. Sedangkan vaksin yang sudah dibuka (walaupun dipakai sedikit) tidak bisa digunakan lagi untuk hari berikutnya, dan harus dimusnahkan.

Salah satu faktor yang juga terkait kurangnya pemanfaatan posyandu adalah masalah gizi balita. Permasalahan gizi buruk anak balita, kekurangan gizi, busung lapar, dan masalah kesehatan lainnya menyangkut kesehatan ibu dan anak akan mudah dihindari melalui kegiatan posyandu, sehingga posyandu sebagai layanan kesehatan yang sangat dekat pada masyarakat sangat berperan penting dalam deteksi dini masalah gizi. Deteksi dini balita gizi buruk adalah kegiatan penentuan status gizi balita melalui KMS (yaitu dari berat badan menurut umur) dan tanda-tanda klinis pada balita yang dilakukan oleh orang tua. Dengan melakukan penimbangan setiap bulan di posyandu maka status gizi dan jalur pertumbuhan anak dapat selalu terpantau, sehingga bila ditemukan kelainan dalam grafik pertumbuhan akan segera terdetesi dan akan mudah untuk melakukan perbaikan status gizi anak. Deteksi dini ini juga perlu diimbangi dengan penyuluhan serta pemberian makanan tambahan.

Apa Saja Manfaat Posyandu Bagi Masyarakat ?

1.      Pertumbahan anak balita terpantau sehingga tidak menderita gizi kurang/gizi buruk.

2.       Bayi dan anak balita mendapat Kapsul Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus.

3.      Bayi memperoleh imunisasi lengkap.

4.      Ibu hamil terpantau berat badannya dan memperoleh Tablet Tambah Darah serta imunisasi Tetanus Toxoid.

5.      Ibu nifas memperoleh Kapsul Vitamin A dan Tablet Tambah Darah.

6.      Stimulasi tumbuh kembang balita dengan fasilitas alat permainan edukatif di posyandu, dan mendeteksi dini tumbuh kembang

7.      Anak belajar bersosialisasi dengan sesame balita dan orang tua.

8.      Memperoleh penyuluhan kesehatan tentang kesehatan ibu dan anak.

9.      Apabila terdapat kelainan pada anak balita, ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui akan dirujuk ke Puskesmas

10.  Dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang kesehatan ibu dan anak batita.

Banyak manfaat posyandu yang bisa diperoleh ibu dan balita. Semua fasilitas tersebut disediakan secara gratis. Sudah selayaknya masyarakat memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan oleh pemerintah tersebut. Walaupun gratis, pelayanan tersebut bukanlah sesuatu yang murah. Jika diuangkan, biaya untuk pembelian vaksin, vitamin, dan berbagai logistik posyandu tentulah sangat mahal. Hal ini dapat dibuktikan jika kita mengimunisasikan anak kita ke Lembaga Pelayanan Kesehatan Swasta, biaya 1 kali imunisasi bisa mencapai puluhan bahkan ratusan ribu rupiah.

Oleh karena itu, setiap keluarga diharapkan aktif memanfaatkan fasilitas di posyandu. Keluarga yang aktif ke posyandu adalah keluarga yang rutin membawa anaknya ke posyandu setiap bulan. Sesibuk apapun orang tua, perlu menyempatkan diri sebulan sekali ke posyandu. Jika orang tua tidak sempat ke posyandu, maka tidak ada salahnya memnta bantuan orang lain atau pengasuh untuk mengantar anak ke posyandu. Posyandu bukan hanya tempat untuk mendapatkan imunisasi saja, tetapi juga memantau pertumbuhan berat badan, deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan anak, serta melakukan stimulasi tumbuh kembang balita melalui alat permainan edukatif yang tersedia di posyandu.

Mengapa Tidak Datang Ke Posyandu?

Beberapa alasan yang sering dikemukakan ibu yang tidak datang ke posyandu antara lain :

1.      Jumlah balita yang terdapat di dalam keluarga, mempengaruhi kunjungan ibu ke posyandu, dimana keluarga yang memiliki jumlah balita sedikit maka ibu akan lebih sering datang ke posyandu. Akan sangat sulit bagi ibu membawa beberapa anak sekaligus ke posyandu. Kalaupun ibu mau datang ke posyandu, biasanya yang dibawa adalah anak terkecil yang belum mendapat imunisasi lengkap. Kadangkala ibu sama sekali tidak datang ke Posyandu walaupun ada bayinya yang belum mendapat imunisasi, dengan alasan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, anaknya yang rewel, rumah berantakan, dan sebagainya.

2.      Tingkat pengetahuan keluarga, dimana keluarga yang memiliki pengetahuan tentang kesehatan, tanda, dan gejala sehubungan dengan pertumbuhan anggota keluarganya, maka keluarga tersebut akan segera melakukan tindakan untuk meminimalkan dampak yang lebih buruk lagi terhadap kondisi anggota keluarganya. Semakin terdidik keluarga maka semakin baik pengetahuan keluarga tentang kesehatan.

3.      Faktor geografi, dimana letak dan kondisi geografis wilayah tersebut. Kondisi geografis diantaranya jarak dan kondisi jalan ke tempat pelayanan kesehatan sangat berpengaruh terhadap keaktifan membawa balitanya ke posyandu.

4.      Dukungan keluarga terdekat / suami। Ibu atau pengasuh balita akan aktif ke posyandu jika ada dorongan dari keluarga terdekat. Dukungan keluarga rangat berperan dalam memelihara dan mempertahankan status gizi balita yang optimal. Keluarga merupakan sistem dasar dimana perilaku sehat dan perawatan kesehatan diatur, dilaksanakan, dan diamankan, keluarga memberikan perawatan kesehatan yang bersifat preventif dan secara bersama-sama merawat anggota keluarga. Keluarga mempunyai tanggung jawab utama untuk memulai dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh para professional perawatan kesehatan.

5.      Usia Ibu. Umur merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang yang sangat utama. Umur mempunyai hubungan dengan tingkat keterpaparan, besarnya risk serta sifat resistensi. Perbedaan pengalaman terhadap masalah kesehatan/penyakit dan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh umur individu tersebut. Ibu-ibu muda (usia 18-24 tahun) yang masih awam tentang posyandu dan imunisasi (punya anak pertama) biasanya rajin datang ke posyandu karena masih penasaran akan kegiatan di posyandu. Akan tetapi ibu muda lainnya tampak enggan ke posyandu karena mereka lebih asik dengan kegiatannya sendiri atau ngobrol bersama teman-temannya. Seiring dengan bertambahnya usia, dan anaknya tumbuh dan berkembang, ibu akan mengetahui betapa pentingnya kesehatan anak. Sehingga ibu akan berupaya mengimunisasikan anaknya sampai lengkap.

6.      Pekerjaan ibu. Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bisa bermacam-macam, berkembang, dan berubah, bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya, dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya kepada sesuatu keadaan yang lebih memuaskan dari pada keadaan sebelumnya. Bagi pekerja wanita, mereka adalah ibu rumah tangga yang sulit lepas begitu saja dari lingkungan keluarga. Wanita mempunyai beban dan hambatan lebih berat dibandingkan rekan prianya. Dalam arti wanita harus lebih dulu mengatasi urusan keluarga, suami, anak dan hal-hal yang menyangkut urusan rumah tangganya, termasuk urusan imunisasi anaknya. Sebagai Ibu yang baik, sekalipun dia bekerja, dia harus tetap memperhatikan kesehatan anaknya, termasuk dalam menjamin pemberian imunisasi secara lengkap.

Untuk ibu-ibu dan masyarakat yang belum mengunjungi posyandu balita, mulai saat ini mari dengan kesadaran yang didasari keiklasan untuk menyegerakan ke posyandu pada jadwal yang telah ditentukan dimasing-masing RW.

  1. Akibat Bila Tidak Membawa Bayi ke Posyandu
  1. Tidak tahu apakah balita tumbuh sehat.
  2. Tidak tahu apakah bayinya mengalami gangguan pertumbuhan dan tidak mengetahui cara mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak.
  3. Bayi yang mengalami gangguan pertumbuhan tidak dapat dideteksi sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan intervensi.
  4. Kemungkinan imunisasi yang didapatkan tidak lengkap.
  5. Tidak mendapatkan penyuluhan gizi

SUMBER :

1.      http://kimbijak.blogspot.com/2012/05/manfaaat-posyandu-bagi-masyarakat.html

2.      http://akperunipdu.blogspot.com/2008/10/pentingnya-posyandu-balita.html

3.      http://istana-bidadari.blogspot.com/2011/12/manfaat-menimbang-bayi-dan-balita-di.htm

4.      http://www.scribd.com/doc/101287376/Pentingnya-Posyandu-Balita

5.      http://health.okezone.com/read/2012/05/24/482/634745/pentingnya-peran-posyandu-untuk-pertumbuhan-balita

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.