Category Archives: Non Fiction

those post I get from various source…
such as my friends file, or the other site from internet, :)

Tum Tahu ala Saya 😁


Selamat pagiiii….
Yah, sedikit bercerita tentang ini..boleh lah ya? 😃
Ini salah satu kegemaran gw. Bikin makanan asal jadi..
Gw ga tau dapet ilham masak itu dari mana, tapi emang dari kecil gw tertarik banget sama yang namanya makanan. Selain karena tiap hari kita perlu makan, dapur adalah bagian terindah dari sebuah rumah. Menurut gw sih..meski kadang suka males ke dapur gara-gara ga ada ide buat bikin makanan apa dan lagi pengen makan masakan nenek gw atau bunda. 😊
Tapi, dari kemaren gw pengen banget makan tum.
Kalian tau tum?
Itu salah satu makanan khas dari daerah gw. BALI.
Tau Bali?
Sebuah pulau kecil di gugusan kepulauan eksotis Indonesia. Tau donk ya??
Gw berasal dari salah satu daerah situ.
Mau tahu lebih lanjut tentang gw?
Chat gw aja..hahahha
Nah..jadi korban eksperimen nggak jelas gw pagi ini, si putih tahu sama si ayam nelangsa.
Gw bikin tum tahu atau pepes tahu, yang biasa orang bilang. Tapi karena ini gw yang buat, jadilah ini ala-ala gw. Nggak tahu nanti hasilnya enak apa nggak, yg penting bisa dimakan aja..😁
Bahan-bahan:
1. Tahu secukupnya
2. Ayam cincang
3. Daun jeruk purut diiris halus
4. Daun salam diiris halus
5. Bawang merah diiris halus
6. Bawang putih diiris halus
7. Cabai rawit diiris halus
8. Garam dan merica bubuk secukupnya
9. Daun pisang

Cara membuat:
Campurkan semua bumbu, dedaunan, dan ayam jadi satu. Aduk rata.
Hancurkan tahu dan campurkan sama adonan ayam tadi. Aduk rata.
Tambahkan garam dan merica secukupnya. Aduk rata. Uleni sampai semua tercampur jadi satu.
Siapkan daun pisang. Ambil satu sendok adonan dan bungkus dengan daun pisang. Lakukan sampai semua adonan habis.
Kukus diatas api sedang selama kurang lebih 45 menit.
Angkat dan sajikan.
——–
Kalo di daerah gw, terutama di rumah gw, biasanya yang dipake tum itu kelapa muda yg belum memiliki daging (kelungah) atau nangka muda. Kedua bahan ini direbus dulu baru dicincang. Tapi gw coba ganti tahu dan rasanya enak juga.
Hihihihi
Oke…segitu dulu.
Ada pertanyaan silahkan koment.
Selamat berakhir pekan dan selamat bereksperimen.
Intinya, dalam memasak itu nggak perlu takut nggak enak. Coba aja dulu. Kalo hasilnya bagus kan bangga juga. Tapi kalo nggak enak dimakan juga donk! Kan kasian mubazir. 😊
Banyak kok makanan asal jadi yang nggak kalah dari restoran.hahha
Oke..Selamat berakhir pekan..
Selamat menikmati hari minggu yang kayaknya bakalan cukup cerah ini..hehehe
See youuu…. 😊😊

KAJIAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA BALITA PEREMPUAN GIZI KURANG


  1. I.                   KELUARGA
    1. A.    Pengertian

1. Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam peranannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan. (Nasrul Effendy,1998).

  1. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketegantungan. ( Departemen Kesehatan RI, 1988).

Dari kedua definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga adalah :

  1. Unit terkecil dari masyarakat
  2. Terdiri dari 2 orang atau lebih
  3. Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah
  4. Hidup dalam satu rumah tangga
  5. Di bawah asuhan seorang kepala keluarga
  6. Berinterkasi diantara sesama anggota keluarga
  7. Setiap anggota keluarga mempunyai perannya masing-masing
  8. Menciptakan, mempertahankan suatu budaya

 

  1. B.     Ciri-Ciri Struktur Keluarga

Menurut Nasrul Effendy (1998) dibagi menjadi 3 yaitu :

  1. Terorganisasi : Saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga.
  2. Ada Keterbatasan : Setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing – masing.
  3. Ada perbedaan dan kekhususan : Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing – masing.

 

  1. C.    Tipe Keluarga

Menurut Nasrul Effendy (1998) tipe keluarga terdiri dari :

  1. Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak- anak.
  2. Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga inti di tambah sanak saudara, misalnya ; nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
  3. Keluarga berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.
  4. Keluarga duda atau janda (Single Family) adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
  5. Keluarga berkomposisi (Compocite) adalah keluarga yang berpoligami yang hidup bersama.
  6. Keluarga kabitas (Cahabitation) adalah keluarga yang terdiri dari dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.

 

  1. D.    Peran Keluarga

Menurut Nasrul Effendy (1998) adalah sebagai berikut :

  1. Peran ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak – anak, berperan sebagai pencari nafkah,pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
  2. Peran ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak – anaknya. Ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik anak – anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
  3. Peran anak : Anak – anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual.

 

  1. E.     Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga menurut Friedman (1998) didefinisikan sebagai hasil atau konsekwensi dari struktur keluarga. Lima fungsi keluarga yang paling berhubungan erat saat mengkaji dan mengintervensi keluarga adalah :

  1. Fungsi Afektif (Fungsi pemeliharaan kepribadian) : untuk stabilitas kepribadian kaum dewasa, memenuhi kebutuhan – kebutuhan para anggota keluarga.
  2. Sosialisai dan Fungsi penempatan sosial : untuk sosialisasi primer anak – anak yang bertujuan untuk membuat mereka menjadi anggota masyarakat yang produktif, dan juga sebagai penganugrahan status anggota keluarga.
  3. Fungsi Reproduksi : untuk menjaga kelangsungan keturunan/generasi dan menambah sumber daya manusia, juga untuk kelangsungan hidup masyarakat.
  4. Fungsi Ekonomis : untuk mengadakan sumber – sumber ekonomi yang memadai dan mengalokasikan sumber – sumber tersebut secara efektif.
  5. Fungsi Perawat Kesehatan : untuk mengadalan kebutuhan-kebutuhan fisik – pangan, sandang, papan dan perawatan kesehatan.

 

  1. F.     Tahap Perkembangan Keluarga

Menurut Friedman( 1998) tahap dan tugas perkembangan keluarga ada 8, yaitu:

  1. Keluarga pemula
    1. Membangun perkawinan yang saling memuaskan
    2. Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis
    3. Keluarga berencana (keputusan tentang kedudukan sebagai orangtua
  2. Keluarga sedang mengasuh anak
    1. Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap.
    2. Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga.
    3. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
    4. Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran-peran orangtua dan kakek nenek
  3. Keluarga dengan anak usia prasekolah
    1. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah, ruang bermain, privasi, keamanan
    2. Mensosialisasikan anak
    3. Mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap memenuhi kebutuhan anak-anak yang lain
    4. Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga
  4. Keluarga dengan anak usia sekolah
    1. Mensosialisasikan anak-anak, termasuk meningkatkan prastasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat
    2. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
    3. Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.
  5. Keluarga dengan anak remaja
    1. Mengembangkan kebebasan dengan tanggungjawab ketika remaja menjadi dewasa dan semakin mandiri
    2. Memfokuskan kembali hubungan perkawinan
    3. Berkomunikasi secara terbuka antara orangtua dan anak-anak
  6. Keluarga melepaskan anak dewasa muda
    1. Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru didapatkan melalui perkawinan anak-anak
    2. Melanjutkan untuk memperbaharui dan menyesuaikan kembali hubungan perkawinan
    3. Membantu orangtua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami maupun istri
  7. Orangtua usia pertengahan
    1. Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan
    2. Mempertahankan hubungan – hubungan yang memuaskan dan penuh arti dengan para orangtua lansia dan anak-anak
    3. Memperkokoh hubungan perkawinan
  8. Keluarga lansia
    1. Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan
    2. Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun
    3. Mempertahankan hubungan perkawinan
    4. Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan
    5. Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi
    6. Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka (penelaahan dan integrasi hidup)

 

  1. G.    Tugas Kesehatan Keluarga

Tugas kesehatan keluarga menurut Nasrul effendy (1998) adalah sebagai berikut :

  1. Mengenal masalah kesehatan.
  2. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat.
  3. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
  4. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
  5. Mempertahankan hubungan dengan (menggunakan) fasilitas kesehatan masyarakat.

 

  1. H.    Tipologi Masalah Kesehatan Keluarga

Dalam tipologi masalah kesehatan keluarga ada 3 kelompok masalah besar, yaitu :

  1. Ancaman kesehatan : adalah keadaan-keadaan yang dapat memungkinkan terjadinya penyakit, kecelakaan, dan kegagalan dalam mencapai potensi kesehatan. Yang termasuk dalam ancaman kesehatan adalah:
    1. Penyakit keturunan, seperti Asma Bronkiale, Diabetes Mellitus dan sebagainya.
    2. Keluarga/anggota keluarga yang menderita penyakit menular, seperti TBC, Gonore, Hepatitis dan sebagainya.
    3. Jumlah anggota keluarga terlalu besar dan tidak sesuai dengan kemampuan dan sumber daya keluarga. Seperti anak terlalu banyak sedangkan penghasilan keluarga kecil.
    4. Risiko terjadi kecelakaan dalam keluarga, misalnya benda tajam diletakkan sembarangan, tangga rumah terlalu curam.
    5. Kekurangan atau kelebihan gizi dari masing-masing anggota keluarga
    6. Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan stress, antara lain:

1)      Hubungan keluarga yang kurang harmonis

2)      Hubungan orang tua dan anak tegang

3)      Orang tua yang tidak dewasa

  1. Sanitasi lingkungan yang buruk, diantaranya:

1)      Ventilasi dan penerangan rumah kurang baik

2)      Tempat pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat

3)      Tempat pembuangan tinja mencemari sumber air minum

4)      Selokan/tempatpembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat

5)      Sumber air minum tidak memenuhi syarat

6)      Kebisingan

7)      Polusi udara

  1. Kebiasaan-kebiasaan yang merugikan kesehatan:

1)      Merokok

2)      Minuman keras

3)      Tidak memakai alas kaki

4)      Makan obat tanpa resep

5)      Kebiasaan makan daging mentah

6)      Higiene personal kurang

  1. Sifat kepribadian yang melekat, misalnya pemarah
  2. Riwayat persalinan sulit
  3. Memainkan peranan yang tidak sesuai, misalnya anak wanita memainkan peranan ibu karena meninggal, anak laki-laki memainkan peranan ayah
  4. Imunisasi anak tidak lengkap

 

  1. Kurang/tidak sehat : adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan. Yang termasuk di dalamnya adalah:
    1. Keadaan sakit, apakah sesudah atau sebelum didiagnosa
    2. Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak sesuai dengan pertumbuhan normal

 

  1. Situasi krisis: adalah saat-saat yang banyak menuntut individu atau keluarga dalam menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga. Yang termasuk dalam situasi krisis adalah:
    1. Perkawinan
    2. Kehamilan
    3. Persalinan
    4. Masa nifas
    5. Menjadi orang tua
    6. Penambahan anggota keluarga, misalnya bayi baru lahir
    7. Abortus
    8. Anak masuk sekolah
    9. Anak remaja
    10. Kehilangan pekerjaan
    11. Kematian anggota keluarga
    12. Pindah rumah

 

  1. I.       Ketidakmampuan Keluarga Dalam Melaksanakan Tugas-Tugas Kesehatan :
  2. Ketidaksanggupan mengenal masalah kesehatan keluarga, disebabkan karena:
    1. Kurang pengetahuan/ketidaktahuan fakta
    2. Rasa takut akibat masalah yang diketahui
    3. Sikap dan falsafah hidup

 

  1. Ketidaksanggupan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat, disebabkan karena:
    1. Tidak memahami mengenai sifat, berat, dan lausnya masalah
    2. Masalah kesehatan tidak begitu menonjol
    3. Keluarga tidak sanggup memecahkan masalah karena kurang pengetahuan dan kurangnya sumber daya keluarga
    4. Tidak sanggup memilih tindakan diantara beberapa pilihan
    5. Ketidakcocokan pendapat dari anggota-anggota keluarga
    6. Tidak tahu tentang fasilitas kesehatan yang ada
    7. Takut dari akibat tindakan
    8. Sikap negatif terhadap masalah kesehatan
    9. Fasilitas kesehatan tidak terjangkau
    10. Kurang percaya terhadap petugas dan lemabga kesehatan
    11. Kesalahan informasi terhadap tindakan yang diharapkan

 

  1. Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit, disebabkan karena:
    1. Tidak mengetahui keadaan penyakit misalnya, sifat, penyebab, penyebaran, perjalanan penyakit, gejala dan perawatannya serta pertumbuhan dan perkembangan anak.
    2. Tidak mengetahui tentang perkembangan perawatan yang dibutuhkan
    3. Kurang/tidak ada fasilitas yang diperlukan untuk perawatan
    4. Tidak seimbang sumber-sumber yang ada dalam keluarga, misalnya keuangan, anggota keluarga yang bertanggung jawab, fasilitas fisik untuk perawatan.
    5. Sikap negatif terhadap yang sakit
    6. Konflik individu dalam keluarga
    7. Sikap dan pandangan hidup
    8. Perilaku yang mementingkan diri sendiri

 

  1. Ketidaksanggupan memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga, disebabkan karena:
    1. Sumber-sumber keluarga tidak cukup, diantaranya keuangan, tanggung jawab/wewenang, keadaan fisik rumah yang tidak memenuhi syarat
    2. Kurang dapat melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan lingkungan rumah
    3. Ketidaktahuan pentingnya sanitasi lingkungan
    4. Konflik personal dalam keluarga
    5. Ketidaktahuan tentang usaha pencegahan penyakit
    6. Sikap dan pandangan hidup
    7. Ketidakompakan keluarga, karena sifat mementingkan diri sendiri, tidak ada kesepakatan, acuh terhadap anggota keluarga yang mempunyai masalah

 

  1. Ketidakmampuan menggunakan sumber di masyarakat guna memelihara kesehatan, disebabkan karena:
    1. Tidak tahu bahwa fasilitas kesehatan itu ada
    2. Tidak memahami keuntungan yang diperoleh
    3. Kurang percaya terhadap petugas kesehatan dan lembaga kesehatan
    4. Pengalaman yang kurang baik dari petugas kesehatan
    5. Rasa takut pada akibat dari tindakan
    6. Tidak terjangkau fasilitas yang diperlukan
    7. Tidak adanya fasilitas yang diperlukan
    8. Rasa asing dan tidak ada dukungan dari masyarakat
    9. Sikap dan falsafah hidup.

 

  1. J.      Tujuan Perawatan Kesehatan Keluarga
  2. Tujuan umum

Untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam memelihara kesehatan keluarga mereka sehingga dapat meningkatkan status kesehatan keluarganya

  1. Tujuan khusus

a)      Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi oleh keluarga

b)      Meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah-masalah kesehatan dasar dalam keluarga

c)      Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah kesehatan para anggotanya

d)     Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap anggota keluarga yang sakit dan dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya

e)      Meningkatkan produktivitas keluarga dalam meningkatkan mutu hidupnya.

 

 

 

  1. II.                GIZI
    1. A.    Pengertian

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.

 

  1. B.     Status Gizi

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu.

Menurut Menkes No. 9201 menkes/SK/VIII/2002 status gizi ditentukan berdasarkan Z-SCORE berdasarkan berat badan (kg) terhadap umur (bulan) yang diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Gizi Lebih: apabila berat badan balita berada > 2 SD (Standar Deviasi)
  2. Gizi Baik : apabila berat badan balita berada antara <-2 SD
  3. Gizi Buruk: apabila berat badan balita <-3 SD

 

  1. C.    Penilaian Status Gizi
  2. 1.      Anthropometri
    1. a.      Berat badan

Perkiraan Berat badan dalam kilogram :

Lahir                : 3,25 kg

3-12 bulan  : 

1-6 tahun     : umur(bulan) x 2 8

6-12tahun   : 

  1. b.      Tinggi badan

Lahir                                     :  50 cm

Umur 1 tahun                         : 75 cm

2-12 tahun                             : umur (tahun) x 6 77

TB anak perempuan = {( TB ayah – 13 cm) TB ibu} : 2  ±  8,5 cm

TB anak laki-laki     = {( TB ibu 13 cm ) TB ayah} : 2   ±  8,5 cm

  1. c.       IMT (Indeks Masa Tubuh)

Kategori

Keterangan

IMT

Kurus sekali

Kekurangan berat badan tingkat berat

<16,9

Kurus

Kekurangan berat badan tingkat ringan

17,0 – 18,4

Normal

Normal

18,5 – 25,0

Gemuk

Kelebihan berat badan tingkat ringan

25,1 – 27,0

Obesitas

Kelebihan berat badan tingkat berat

> 27,0

     

 

  1. 2.      TABLE BAKU RUJUKAN PENILAIAN STATUS GIZI ANAK PEREMPUAN USIA 0-59 BULAN MENURUT BERAT BADAN DAN UMUR (BB/U)

Umur (bulan)

Gizi buruk (Kg)

< – 3 SD

Gizi kurang (Kg)

< – 2 SD – > – 3 SD

Gizi baik (Kg)

>-2 SD – 2 SD

Gizi lebih (Kg)

0

1

2

3

4

5

1,7

2,1

2,6

3,1

3,6

4,0

1,8 – 2,1

2,2 – 2,7

2,7 – 3,2

3,2 – 3,8

3,7 – 4,4

4,1 – 4,9

2,2 – 3,9

2,8 – 5,0

3,3 – 6,0

3,9 – 6,9

4,5 – 7,6

5,0 – 8,3

4,0

5,1

6,1

7,0

7,7

8,4

6

7

8

9

10

4,5

4,9

5,3

5,6

5,8

4,6 – 5,4

5,0 – 5,8

5,4 – 6,2

5,7 – 6,5

5,9 – 6,8

5,5 – 8,9

5,9 – 9,5

6,3 – 10,0

6,6 – 10,4

6,9 – 10,8

9,0

9,6

10,1

10,5

10,9

11

12

13

14

15

6,1

6,3

6,5

6,6

6,8

6,2 – 7,1

6,4 – 7,3

6,6 – 7,5

6,7 – 7,7

6,9 – 7,9

7,2 – 11,2

7,4 – 11,5

7,6 – 11,8

7,8 – 12,1

8,0 – 12,3

11,3

11,6

11,9

12,2

12,4

16

17

18

19

20

6,9

7,1

7,2

7,4

7,5

7,0 – 8,1

7,2 – 8,2

7,3 – 8,4

7,5 – 8,5

7,6 – 8,7

8,2 – 12,5

8,3 – 12,8

8,5 – 13,0

8,6 – 13,2

8,8 – 13,4

12,6

12,9

13,1

13,3

13,5

21

22

23

24

25

7,6

7,8

8,0

8,2

8,3

7,7 – 8,2

7,9 – 9,0

8,1 – 9,2

8,3 – 9,3

8,4 – 9,5

9,0 – 13,7

9,1 – 13,9

9,3 – 14,1

9,4 – 14,5

9,6 – 14,8

13,8

14,0

14,2

14,6

14,9

26

27

8,4

8,6

8,5 – 9,7

8,7 – 9,8

9,8 – 15,1

9,9 – 15,5

15,2

15,6

28

29

30

8,7

8,8

8,9

8,8 – 10,0

8,9 – 10,1

9,0 – 10,2

10,1 – 15,8

10,2 – 16,0

10,3 – 16,3

15,9

16,1

16,4

31

32

33

34

35

9,0

9,1

9,3

9,4

9,5

9,1 – 10,4

9,2 – 10,5

9,4 – 10,7

9,5 – 10,8

9,6 – 10,9

10,5 – 16,6

10,6 – 16,9

10,8 – 17,1

10,9 – 17,4

11,0 – 17,7

16,7

17,0

17,2

17,5

17,8

36

37

38

39

40

9,6

9,7

9,8

9,9

10,0

9,7 – 11,1

9,8 – 11,2

9,9 – 11,3

10,0 – 11,4

10,1 – 11,5

11,2 – 17,9

11,3 – 18,2

11,4 – 18,4

11,5 – 18,6

11,6 – 18,9

18,0

18,3

18,5

18,7

19,0

41

42

43

44

45

10,1

10,2

10,3

10,4

10,5

10,2 – 11,7

10,3 – 11,8

10,4 – 11,9

10,5 – 12,0

10,6 – 12,1

11,8 – 19,1

11,9 – 19,3

12,0 – 19,5

12,1 – 19,7

12,2 – 20,0

19,2

19,4

19,6

19,8

20,1

46

47

48

49

50

10,6

10,7

10,8

10,8

10,9

10,7 – 12,2

10,8 – 12,4

10,9 – 12,5

10,9 – 12,6

11,0 – 12,7

12,3 – 20,2

12,5 – 20,4

12,6 – 20,6

12,7 – 20,8

12,8 – 21,0

20,3

20,5

20,7

20,9

21,2

51

52

53

54

55

11,0

11,1

11,2

11,3

11,4

11,1 – 12,8

11,2 – 12,9

11,3 – 13,0

11,4 – 13,1

11,5 – 13,2

12,9 – 21,2

13,0 – 21,4

13,1 – 21,6

13,2 – 21,8

13,3 – 22,1

21,3

21,5

21,7

21,9

22,2

56

57

58

59

11,4

11,5

11,6

11,7

11,5 – 13,3

11,6 – 13,4

11,7 – 13,5

11,8 – 13,6

13,4 – 22,3

13,5 – 22,5

13,6 – 22,7

13,7 – 22,9

22,4

22,6

22,8

22,0

SUMBER : Menteri Kesehatan Republik Indonesia

  1. D.    Pengertian Gizi Kurang

Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidak seimbagan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berpikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan

E.     Tanda dan Gejala Gizi Kurang

  1. Nafsu makan menurun
  2. Anak tampak kurus
  3. Wajah seperti orang tua
  4. Kulit keriput
  5. Anak cengeng dan rewel
  6. Rambut kusam dan merah, mudah dicabut
  7. Berat badan kurang dari normal/ kurus.
  8. Rambut tipis dan merah
  9.  Kurang bersemangat
  10.  Mata pucat     
  11.  Mudah lelah
  12. Malas beraktifitas
  1. F.      Faktor-faktor Penyebab Gizi Kurang
  1. Peranan Diet

Diet yang mengandung cukup energi, tetapi kurang protein akan menyebabkan anak menjadi penderita gizi kurang, sedangkan diet kurang energi walaupun zat-zat gizi esensialnya seimbang akan menyebabkan anak menjadi penderita gizi kurang.

  1. Peranan Faktor Sosial

Pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu  yang sudah turun temurun dapat mempengaruhi  terjadinya gizi kurang. Adakalanya pantangan tersebut didasarkan pada keagamaan, tetapi ada pula yang merupakan tradisi yang turun temurun.

  1. Keadaan Penduduk   

Meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan bertambahnya persediaan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis pangan. Sedangkan kemiskinan penduduk merupakan akibat lanjutannya. Ditekankan pula perlunya bahan makanan yang bergizi baik disamping kuantitasnya.

  1. Peranan Infeksi

Infeksi mempunyai pengaruh negative pada daya tahan tubuh. Sebab gizi kurang disertai infeksi pada umumnya mempunyai konsekuensi yang besar.

  1. Peranan Kemiskinan

Kemiskinan merupakan dasar dari gizi kurang, dimana dengan penghasilan yang tetap rendah ketidak mampuan menanam bahan makanan sendiri ditambah pula dengan timbulnya banyak penyakit infeksi karena kepadatan tempat tinggal, maka timbulnya gejala gizi kurang lebih dipercepat.

D.  Akibat Gizi Kurang

  1. Mudah terserang penyakit
  2. Kecerdasan anak berkurang
  3. Pertumbuhan dan perkembangan lambat
  4. Mengurangi potensi dan kecerdasan di kemudian hari.
  5. Menyebabkan kematian
  6. Nilai IQ anak-anak yang pernah menderita gizi kurang pada umur muda lebih rendah dari pada anak-anak normal.

E.  Cara Menangani  Gizi Kurang

  1. Beri makanan yang seimbang
  2. Beri ASI pada anak baru lahir sampai 2 tahun
  3. Minum obat cacing setiap 6 bulan sekali
  4. Jaga kebersihan rumah dan lingkungan
  5. Beri makanan sedikit tapi sering
  6. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan
  7. Ikuti program posyandu setempat, pemberian vitamin
  8. Makan makanan gizi seimbang secara teratur
  9. Perbanyak minum air putih.

 

Cara memotivasi makanan pada anak

a. Membuat suasana makan anak menyenangkan.

b. Jangan memaksa / mengomeli anak ketika anak makan.

c. Berikan kebebasan anak dalam memilih menu makanan dengan tetap mempertahankan gizi yang seimbang.

 

F. Pencegahan Gizi Kurang

Banyak orang beranggapan bahwa factor utama pada gizi kurang itu kemelaratan, sehingga gizi kurang hanya dapat diperbaiki dengan perbaikan status social dan ekonomi masyarakat. Akan tetapi pencegahan gizi kurang dapat juga dengan memperbaiki pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak-anak Indonesia melampaui bidang kesehatan dan gizi, lingkungan serta menyangkut tradisi dan keadaan ekonomi rakyat. Pencegahannya meliputi :

Pemberian Air Susu Ibu (ASI)

  1. Pemberian makanan bergizi pada umur 6 tahun keatas
  2. Pencegahan penyakit infeksi dengan kebersihan lingkungan
  3. Pemberian imunisasi
  4. Mengikuti program keluarga berenc

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. (2007). Buku Pedoman Nasional Pengendalian Penyakit Penyakit Kusta.

Friedman. (2002). Buku Ajar Keperawatan Keluarga Riset, Teori, dan Praktek, Edisi kelima, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Mansjoer A dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Dua, Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Setiadi. (2008). Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Surabaya: Graha Ilmu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers