Category Archives: Non Fiction

those post I get from various source…
such as my friends file, or the other site from internet, :)

satu desember


Okee…

Mumpung aku baru selesai bikin laporan bulanan yang cukup menyiksa hati nurani…#elleeeh rencananya sih mau ngelanjutin lagi ceritaku yang kemarin..tapi kok….nggak mood ya? Nggak dapet feel gitu..

Nggak dapet inspirasi…

Hmm…

Jadi bingung juga sih, itu mau dilanjutin apa nggak ya?

Hihihihihii…

Kalo dilanjutin, apakah ada yang akan membacanya?

Apakah ada yang menunggunya?

Cut aja kali ya…??

Inspirasi udah mentok soalnya..

Kalo dilanjutin, tunggu mood dulu deeh…

Biar dapet dulu feelnya…

Karena kalo dipaksa, pasti nggak akan bagus hasilnya..

Daaaannnn…..sekarang tanggal berapa???

Satu Desember!!

It means today is a begining for new month.

New life.
New activities.
New jokes.
New happiness.

Yeah…something new lah buat kita semua..

Daann….apa kalian tahu kalau satu desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia?

Nggak??? Oh My….

Jadi, beberapa tahun yang lalu tepatnya tahun 1988, para Menteri Kesehatan Sedunia mengadakan pertemuan untuk membahas program-program untuk pencegahan AIDS. Dan, sejak itulah tanggal satu desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia.

Dan kenapa aku excited banget buat cerita soal ini?

Karena AIDS, merupakan salah satu penyakit yang sudah begitu banyak berkembang di masyarakat. Di Bali khususnya. Tingkat penyebarannya sudah sangat mengkhawatirkan. Dan sangaatt memprihatinkan. Huh….ngeerrriiii!!

AIDS.
AIDS, yang merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome, merupakan sekumpulan gejala penyakit yang diakibatkan oleh menurunnya siistem kekebalan tubuh. Jadi, penderita AIDS tidak memiliki gejala spesifik yang bisa kita vonis dengan mudah bahwa ia menderita AIDS. Nggak kayak kanker yang memiliki gejala spesifik. Penderita AIDS sangat mudah terserang penyakit. Secara yang diserang oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), yang menjadi penyebab AIDS, adalah sistem kekebalan tubuh kita, yang biasanya melindungi tubuh dari penyakit.

Untuk mengetahui seseorang terinveksi virus HIV dapat dilakukan test VCT (Voluntary Counseling Test), yaitu konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bertujuan untuk mengetahui status HIV seseorang.

Nah, dari pertama kali seseorang terinfeksi HIV sampai menjadi AIDS, memiliki beberapa tahapan diantaranya:

  1. Periode jendela
    Priode dari pertama kali virus HIV masuk ke dalam tubuh sampai terbentuknya antibodi terhadap HIV dalam darah. Tidak ada tanda-tanda khusus yang dialami penderita. Penderita merasa sehat. Test HIV masih menunjukkan hasil negatif, karena keberadaan virus belum terdeteksi. Periode ini umumnya berkisar antara 2 minggu sampai 6 bulan.
  2. HIV Positif tanpa gejala
    Periode ini, HIV mulai berkembang biak di dalam tubuh. Tidak ada tanda-tanda khusus. Penderita masih terlihat sehat dan merasa sehat. Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV, karena sudah terbentuk antibodi terhadap HIV. Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya.

  3. HIV Positif muncul gejala
    Peride ini, sistem kekebalan tubuh semakin menurun. Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya pembengkakan kelenjar limpe di seluruh tubuh, diare terus menerus, stomatitis yang tidak sembuh-sembuh, flu, dll. Umumnya, berlangsung lebih dari sebulan, tergantung daya tahan tubuh.

  4. AIDS
    Kondisi dimana sistem kekebalan tubuh sangat lemah dan infeksi oportunistik (penyakit-penyakit lain) semakin parah.

Pertanyaannya sekarang, bagaimanakah virus HIV itu bisa menular?

Udara? Tidak!

Sentuhan? Tidak!

Memakai alat makan bersama? Tidak!

Ciuman? NO! (selama tidak ada luka di mulut yang bisa menyebabkan perpindahan darah).

Karena virus HIV terdapat di cairan tubuh yaitu darah, cairan vagina,dan cairan semen. Tapi tidak terdapat di keringat, air liur, atau air seni.

Lalu??

HIV menular dari beberapa perilaku tidak sehat yang biasa dilakukan oleh masyarakat kita belakangan ini, yaitu berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa kondom dan memakai jarum suntik bergantian yang biasanya dialakukan oleh pengguna narkotika. Selain itu, HIV bisa ditularkan dari ibu ke bayi yang dikandungnya selama masa kehamilan, persalinan, dan/atau saat menyusui. HIV juga bisa menular melalui tranfusi darah/produk darah yang tercemar HIV. Kontak antara luka vs luka yang menyebabkan perpindahan darah.

Masyarakat kita saat ini kebanyakan menjauhi ODHA ya, tapi cenderung menjalani gaya hidup yang menjurus untuk tertular HIV. Ck.
Harus diubah niih sepertinya ya, gaya hidupnya…hihihi semua tergantung kesadaran sendiri sih sebenarnya. Karena seperti yang aku bilang tadi, apa yang dilakukan nggak dari hati pasti nggak bagus hasilnya..ya nggak?

HIV masih belum ada obatnya yaa…
Tapi, ada beberapa obat yang bisa untuk mencegah/memperlambat penyebaran virus, sehingga menambah harapan hidup ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Salah satunya yang umum adalah antiretroviral (ARV).

Jadi…bagaimanakah cara mencegah penularan HIV/AIDS?

A.B.C.D.E

A: Abstinence : tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah.
B: Be faithful : setia pada satu pasangan saja.
C: Condom : selalu gunakan kondom saat berhubungan seksual.
D: Don’t Inject : jangan menggunakan narkoba suntik dan bergilir.
E: Education : perbanyaklah mencari dan menambah pengetahuan tentang kesehatan reproduksi juga HIV/AIDS. Semakin kita tahu cara penyebaran dan dampak yang dihasilkan, semakin takutlah kita terinfeksi HIV/AIDS.

Oke….
Segitu dulu…

Ngeri nggak sih HIV/AIDS?
Ngeri banget pastinya ya?

Jadi, mari budayakan A B C D E dalam kehidupan sehari-hari. Itung-itung ngurangin dosa juga kan ya?? Wkwkwkwk

Satu lagi pesan saya, jangan jauhi ODHA. Mereka memerlukan dukungan kita untuk bisa terus bertahan hidup. Mengonsumsi ARV (Antiretroviral) dengan berbagai efek obat yang ditimbulkan, tidaklah mudah. Jauhkan diri kita dari diskriminasi walaupun harus tetap menjaga keselamatan diri, ya..

Jauhi virusnya, jauhi penyakitnya, BUKAN ORANGNYA!

Oke…

Sekali lagi, selamat tanggal satu desember.

No title(2)

#saveearthfromHIV/AIDS
#WorldAIDSDay

:):):)

 

Dismenore (Nyeri Haid)


Dismenore (Nyeri Haid)
Dismenore atau nyeri haid adalah perasaan nyeri pada saat haid yang biasanya dialami oleh remaja yang baru mengalami menstruasi pertama. Tetapi, tidak menutup kemungkinan dismenore atau nyeri haid juga di alami oleh perempuan dewasa.
Dismenore atau nyeri haid adalah rasa nyeri yang timbul menjelang dan selama menstruasi yang dapat menggangggu aktivitas sehari-hari, ditandai dengan gejala kram pada abdomen bagian bawah. Gejala ini disebabkan karena tingginya produksi hormon Prostaglandin.
Klasifikasi Dismenore (Nyeri haid)

Dismenore Primer
Dismenore primer, (disebut juga Dismenore idiopatik, esensial, intrinsik) adalah nyeri menstruasi tanpa kelainan organ reproduksi (tanpa kelainan ginekologik). Terjadi sejak menarche dan tidak terdapat kelainan pada alat kandungan
Dismenore primer timbul sejak haid pertama dan akan pulih sendiri dengan berjalannya waktu. Tepatnya saat lebih stabilnya hormon tubuh atau perubahan posisi rahim setelah menikah dan melahirkan.
Dismenore primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulatuar yang tidak disertai rasa nyeri. Rasa nyeri tidak timbul lama sebelumnya atau bersama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari.
Dismenore primer biasanya dimulai 6 bulan hingga 1 tahun setelah seorang gadis mendapatkan menstruasi pertamanya. Ini adalah waktu ketika sel telur mulai matang setiap bulan dalam ovarium. Pematangan sel telur disebut ovulasi. Dismenore tidak ada pada siklus jika ovulasi belum terjadi. Dismenore primer jarang terjadi setalah usia 20 tahun.
Beberapa faktor peranan sebagai penyebab Dismenore primer, antara lain;
Faktor kejiwaan — Pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul Dismenore.
Faktor kostitusi — Faktor ini erat hubungannya dengan faktor di atas karena dapat menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri, misalnya anemia, penyakit menahun, dan sebagainya yang dapat mempengaruhi timbulnya Dismenore.
Faktor obstruksi kanalis servikalis — Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan terjadinya Dismenore primer adalah stenosis canalis servikalis.
Faktor alergi — Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara Dismenore dengan urtikaria, migrane atau asam bronkhiale, bahwa sebab alergi adalah toksi haid.
Dismenore Sekunder
Dismenore sekunder, (disebut juga sebagai Dismenore ekstrinsik, acquired) adalah nyeri menstruasi yang terjadi karena kelainan ginekologik, misalnya endometriosis (sebagian besar), fibroids, adenomyosis. Terjadi pada wanita yang sebelumnya tidak mengalami Dismenore.
Dismenore sekunder merupakan nyeri yang disebabkan oleh kelainan ginekologi seperti salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis uteri dan lain-lain.
Dismenore sekunder biasanya didapati pada wanita berusia diatas 20 tahun meskipun dalam beberapa kasus bisa mulai tampak pada usia kurang dari 20 tahun.
Tanda dan Gejala Dismenore (Nyeri Haid)

Gejala Dismenore yang paling umum adalah nyeri mirip kram dibagian bawah perut yang menyebar ke punggung dan kaki. Gejala terkait lainnya adalah muntah, sakit kepala, cemas, kelelahan, diare, pusing dan rasa kembung atau perut terasa penuh. Beberapa wanita mengalami nyeri sebelum menstruasi dimulai dan bisa berlangsung beberapa hari.
Dismenore atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Karena gangguan ini sifatnya subyektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai. Walaupun frekuensi Dismenore cukup tinggi dan lama dikenal, namun sampai sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan dan memuaskan. Oleh karena hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak diperut bagian bawah sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual, muntah, sakit kepala, diare, dan iritabilitas sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari.

 

Penanganan Dismenore (Nyeri Haid)

Beberapa pendapat tentang upaya penanganan untuk mengatasi Dismenore:
Olahraga atau latihan, psikoterapi untuk meyakinkan perempuan bahwa keluhannya tidak membahayakan kehidupan, dan akan berlalu begitu darah keluar dengan lancar.
Obat-obatan anti sakit (analgetik) dan obat-obatan penghambat pengeluaran hormon Prostaglandin, seperti Aspirin, Endometasin, dan Asam Mefenamat. Obat-obatan yang digunakan harus atas pengawasan dokter. Boleh minum analgetik (penghilang rasa sakit) yang banyak dijual di toko obat, asal dosisnya tidak lebih dari 3 kali sehari.
Kompres hangat dengan botol pada bagian yang terasa kram bisa di perut atau pinggang bagian belakang.
Menggosok-gosok perut atau pinggang yang sakit.
Ambil posisi menungging sehingga rahim tergantung ke bawah.
Tarik nafas dalam-dalam secara perlahan untuk relaksasi.
Mengonsumsi buah dan sayur.
Minum-minuman hangat yang mengandung kalsium tinggi.
Menghindari minum-minuman yang beralkohol, mengurangi kadar gula dan kafein (kopi dan es krim).

dari berbagai sumber 😊

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 73 other followers